Setetes Embun Pengetahuan Blog

Just another WordPress.com weblog

“Penggunaan Ekstrak Sirih Merah (Piper crocatum) Sebagai Green-antiseptik Untuk Penanganan Mastitis Subklinis Sebagai Titik Tolak Perbaikan Management Kesehatan Pada Peternakan Sapi Perah Rakyat ”


“Penggunaan Ekstrak Sirih Merah (Piper crocatum) Sebagai Green-antiseptik Untuk Penanganan Mastitis Subklinis Sebagai Titik Tolak Perbaikan Management Kesehatan Pada Peternakan Sapi Perah Rakyat ”

Oleh:

Franes Pradusuara, S.Pt

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Mastitis atau radang ambing merupakan salah satu penyakit yang sangat merugikan peternak sapi perah, karena meyebabkan penurunan produksi susu (Subronto, 1985). Kasus mastitis pada sapi perah sangat tinggi terutama kasus mastitis subklinis (MSK). Pada MSK perlu dilakukan pemeriksaan khusus terhadap susu karena kejadian mastitis subklinis ini banyak tidak diketahui oleh para peternak.
Hampir suatu kemutlakan bahwa dalam pengobatan radang ambing selalu memerlukan obat-obatan antimikrobial terutama antibiotika. Pemakaian antibiotika untuk pengobatan mastitis dapat mengakibatkan terjadinya residu antibiotika pada susu yang berakibat langsung timbulnya alergi pada konsumen dan terjadinya resistensi kuman. Merupakan kenyataan didalam praktek bahwa kontrol terhadap pelarangan penjualan air susu yang mengandung residu antibiotika sulit sekali dilakukan. Kemungkinan adanya residu antibiotika dalam susu sangat besar, mengingat antibiotika akan tetap berada dalam susu sampai dengan hari kelima setelah pengobatan terakhir. Kenyataannya peternak sapi perah biasanya sudah menjual susu dalam waktu 48 jam setelah pengobatan terakhir kepada Koperasi Unit Desa (KUD), Industri Pengolahan Susu (IPS). Antibiotika tahan terhadap pemanasan di bawah titik didih susu. Jadi bila dikonsumsi dalam bentuk pasteurisasi maka antibiotic tersebut masih berada di dalam susu (Soebronto, 1985).
Penggunaan produk alami pada pangan menjadi salah satu tuntutan konsumen pada saat ini. Perlu kiranya dilakukan seleksi dan karakterisasi senyawa-senyawa antimikroba alami yang berasal dari bahan-bahan yang umum digunakan. Penggunaan antimikroba alami perlu ditingkatkan untuk menggantikan bahan sintesis pada produk pangan. Begitupun pengobatan terhadap mastitis diperlukan obat alternatif alami sebagai pengganti antibiotika, salah satu pilihan obat alami diantaranya adalah daun sirih merah. Sirih sudah dikenal sejak lama di Indonesia, namun penelitian mengenai budidaya, pasca panen, maupun pemanfaatannya belum banyak dilakukan (Darwis, 1991).
Hampir semua bagian tanaman sirih dapat digunakan sebagai obat, tetapi yang paling banyak digunakan adalah daunnya. Pemakaian sirih sebagai obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit sudah meluas namun masih bersifat tradisional. Menurut Soedibyo (1991) daun sirih banyak digunakan untuk pengobatan beberapa penyakit maupun perawatan kecantikan. Daun sirih digunakan sebagai obat kumur, sariawan, asma, batuk, encok, hidung berdarah, kepala pusing, radang selaput lendir mata, batuk kering, mulut berbau dan radang tenggorokan. Daun sirih merupakan salah satu sekian jenis tumbuhan yang memiliki aktivitas antibakteri paling tinggi (Soewondo et al., 1991).

1.2. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah adalah:
1. Menyampaikan informasi tentang bahayanya mastitis subklinis bagi perkembangan peternakan sapi perah
2. Menyampaikan informasi mengenai manfaat ekstrak daun sirih bagi perkembangan peternakan sapi perah rakyat

1.3. Manfaat
Manfaat dari pembuatan makalah adalah:
1. Mengetahui seberapa bahayanya mastitis subklinis bagi perkembangan peternakan sapi perah
2. Mengetahui tentang manfaat lain dari ekstrak daun sirih sebagai antibiotika dalam penanganan mastitis subklinis pada sapi perah.

1.4. Kerangka Pemikiran

Penyakit mastitis subklinis layaknya seperti gunung es, hanya sedikit yang data diketahui dan sisanya tidak dapat diketahui. Hal itu sangat berbahaya, bayangkan saja jika penyakit mastitis subklinis tersebut tidak bisa dipantau terutama di peternakan rakyat maka berapa liter susu yang terbuang karena tidak bisa tertampung koperasi dengan alasan mengandung jumlah bakteri yang banyak. Maka atas dasar itulah perlu penanganan yang tepat terhadap kasus mastitis subklinis tersebut.

kerangka pemikiran2Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penggunaan Sirih Merah Sebagai Green-antiseptik Penangkal Penyakit Mastitis Subklinis
Kebanyakan dari peternak akan memberikan antibiotic terhadap sapi yang terserang mastitis. Namun dengan dosis yang tidak tepat akan menyebabkan resisten pada bakteri penyebab mastitis tersebut. Dan jika dilakukan berlebihan maka yang terjadi adalah adanya residu pada susu yang dihasilkan.
Bermunculan LSM pembela hak konsumen maka, berhembuslah kabar bahwa penggunaan antibiotic harus dikurangi atau bahkan ditinggalkan dengan alasan berbahaya jika sampai meninggalkan residu pada produk akhir berupa susu sapi konsumsi. Indonesia adalah negeri yang sangat subur, disini tumbuh berbagai jenis tanaman yang tentunya bisa dimanfaatkan sebagai obat, salah satunya adalah sirih merah. Dengan segala kelebihan sirih merah maka bukan tidak mungkin akan menggantikan penggunaan antibiotic dipasaran.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sapi Perah Peranakan FH

cowHolstenDairyCattle

Sapi perah adalah jenis sapi yang dipelihara dengan tujuan untuk menghasilkan susu. Bangsa sapi peranakan Friesian Holstein berasal dari negeri Belanda yaitu provinsi North Holand dan West Friesland, kedua daerah yang memiliki padang rumput yang bagus. Bangsa sapi ini pada awalnya juga diseleksi ke arah kemampuan atau ketangguhan untuk merumput (Brakely dan Bade, 1992). Syarief dan Sumoprastowo (1990) menambahkan bahwa sapi perah memiliki ciri-ciri umum antara lain: bentuk badan segitiga seperti baji, kulit tipis, halus dan longgar, kapasitas perutnya besar sehingga mampu menampung pakan banyak, mempunyai kemampuan yang tinggi dalam mengubah pakan menjadi susu, vena susu menonjol dan berkelak-kelok dengan ambing yang besar dan bila diraba terasa lunak.
Bibit sapi perah yang baik bisa di dapat dengan cara seleksi (BBPTU Sapi Perah Baturraden Indonesia, 2009). Seleksi adalah kegiatan memilih tetua untuk menghasilkan keturununannya melalui pemeriksaan dan atau pengujian berdasarkan kriteria dan tujuan tertentu dengan menggunakan metode dan teknologi tertentu. Seleksi juga dilaksanakan berdasarkan tanda-tanda spesifik yang menjadi ciri khas suatu rumpun ternak seperti warna bulu bentuk ekor, dan produksi susu. Bibit sapi betina elit adalah sapi perah betina yang memiliki mutu genetik tinggi, dalam arti dapat menghasilkan susu yang tinggi, mempunyai sifat daya adaptasi terhadap lingkungan tropis yang baik. Dibedakan dalam tiga tingkatan (grade), yaitu:
1. Grade A, yang diprediksi mampu menghasilkan susu sebanyak ≥ 6.000 kg ME 2x 305hari
2. Grade B, yang diprediksi mampu menghasilkan susu sebanyak ≥5.000 – 6.000 kg ME 2x 305hari
3. Grade C, yang diprediksi mampu menghasilkan susu sebanyak ≥4.000 –5.000 kg ME 2x 305hari
Untuk menghasilkan bibit sapi perah jantan elit yang mempunyai mutu genetik tinggi, dilakukan seleksi dengan kriteria sebagai berikut:
1. Berat sapih (weaning weight)
2. Berat setahun (yearling weight)
3. Tes performans
4. Tes sexual behavior.
5. Progeny test.
Pelaksanaan seleksi dilakukan dengan metode independent culling level, artinya calon pejantan yang tidak dapat melampaui salah satu kriteria tersebut di atas, disingkirkan sebagai calon pejantan elit. Adapun sistem pembibitan sapi perah betina dilakukan dengan menggunakan seleksi atas dasar sebagai berikut.
1. Berat setahun (yearling weight)
2. Data reproduksi
3. Data produksi susu

2.2. Sirih Merah

s3

Tanaman sirih merah (Piper crocatum) termasuk dalam famili Piperaceae, tumbuh merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai, yang tumbuh berselang-seling dari batangnya serta penampakan daun yang berwarna merah keperakan dan mengkilap. Dalam daun sirih merah terkandung senyawa fito-kimia yakni alkoloid, saponin, ta-nin dan flavonoid. Sirih merah sejak dulu telah digunakan oleh masyarakat yang berada di Pulau Jawa sebagai obat untuk meyembuhkan berbagai jenis penyakit dan merupakan bagian dari acara adat. Penggunaan sirih merah dapat digunakan dalam bentuk segar, simplisia maupun ekstrak kapsul. Secara empiris sirih merah dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit seperti diabetes mi-litus, hepatitis, batu ginjal, me-nurunkan kolesterol, mencegah stroke, asam urat, hipertensi, ra-dang liver, radang prostat, radang mata, keputihan, maag, kelelahan, nyeri sendi dan memperhalus kulit. Hasil uji praklinis pada tikus dengan pemberian ekstrak hingga dosis 20 g/kg berat badan, aman dikonsumsi dan tidak bersifat toksik. Sirih merah banyak di-gunakan pada klinik herbal center sebagai ramuan atau terapi bagi penderita yang tidak dapat di-sembuhkan dengan obat kimia. Potensi sirih merah sebagai tanaman obat multi fungsi sangat besar sehingga perlu ditingkatkan dalam penggunaannya sebagai bahan obat modern (Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, 2008).

2.3. Penyakit Mastitis Subklinis

images4

Kejadian mastitis subklinis pada sapi perah di Indonesia sangat tinggi (95-98%) dan menimbulkan banyak kerugian. Streptococcus agalactiae dan Staphylococcus aureus merupakan 2 bakteri utama penyebab mastitis subklinis. Dari beberapa hasil penelitian diketahui bahwa S. agalactiae dan S . aureus yang mempunyai hemaglutinin, mempunyai kemampuan adesi pada sel epitel ambing jauh lebih besar dari pada yang tidak mempunyai hemaglutinin. Hemaglutinin diduga sebagai faktor virulen yang penting (sebagai adesin), oleh karena itu perlu dikaji lebih lanjut tentang hemglutinin dari kedua bakteri ini (Wahyuni et al., 2001).
Selama ini penanganan mastitis dilakukan dengan pemakaian antibiotika. Seperti kita ketahui pemakaian antibiotika yang tidak tepat akan menimbulkan masalah baru yaitu adanya residu antibiotika dalam susu, alergi, resistensi serta mempengaruhi proses pengolahan hasil susu. Dari hasil penelitian Sudarwanto et al. (1992), 32,52% susu pasteurisasi dan 31,10% susu segar di wilayah Jakarta, Bogor dan Bandung mengandung residu antibiotika dalam jumlah yang cukup tinggi. Selain itu mastitis subklinis yang disebabkan oleh bakteri Gram positif semakin sulit ditangani dengan antibiotika karena bakteri ini sudah banyak yang resisten terhadap berbagai jenis antibiotika. Untuk menghindari hal tersebut maka perlu diupayakan strategi baru untuk mengatasi mastitis (Wahyuni et al., 2005).

III. PEMBAHASAN
3.1. Mengenal Penyakit Mastitis Subklinis
Mastitis adalah keradangan pada ambing yang menunjukkan perubahan patologis sehingga menyebabkan perubahan pada sekresinya. Mastitis pada sapi perah disebabkan oleh infeksi mikroorganisme yang masuk dalam putting susu. Organisme yang dapat menyebabkan mastitis antara lain : Staphylococcus sp. dan Streptococcus sp. Para ahli membagi patogenesis mastitis menjadi beberapa fase : infiltrasi, infeksi, infasi, berturut-turut dari mulai yang akut kefase pertama (Damarjati, 2008).
1. Fase Infasi
Masuknya organism ke dalam putting. Kebanyakan terjadi karena terbukanya lubang saluran putting, terutama setelah diperah. Infasi ini dipermudah dengan adanya lingkungan yang jelek, opulasi terlalu tinggi, adanya lesi pada putting susu atau karena daya tahan sapi menurun.
2. Fase Infeksi
Terjadinya pembentukan koloni oleh mikroorganisme yang dalam waktu singkat menyebar ke lobuli da alveoli.
3. Fase Infiltrasi
Ditandai saat mikroorganisme sampai ke mukosa kelenjar, tubuh akan bereaksi dengan memobilisasi leukosit dan terjadi radang. Adnya radang menyebabkan sel darah dicurahkan ke dalam susu, sehingga sifat fisik seta susunan susu mengalami perubahan.
Secara klinis proses radang ambing dapat berlangsung secara akut,subakut, kronis. Mastitis akut ditandai dengan kebengkakan, panas, rasa sakit, warna ambing kemerahan dan tergantung fungsinya. Mastitis subakut perubahan radang ambing tersamar tetapi susunya mengalami perubahan. Kelainan bisa berupa asimetris, bengkak, lesi pada puting susu dan warna merah pada radang hebat. Mastitis kronis terjadi bila infeksi pada ambing berjalan lama dan ditandai dengan adanya atropi ambing.
Mastitis subakut tidak ditemukan gejala klinis namun tersifat pada sekresi susunya, deteksi terhadap mastitis subakut dengan uji sekresi susunya, yang menunjukkan produk infiltrasi seperti leukosit, fibrin dan serum serta perubahan komposisi kimiawi. Ditransferkan sodium klorat dan bikarbonat dari darah ke dalam susu menjadi alkalis.
Perubahan susu secara fisis meliputi warna, bau, konsistensi dan rasanya. Warna menjadi putih pucat atau kebiruan, rasa menjadi getir atau agak asin. Bau yang agak harum darisusu menjadi asam, sedangkan konsistensinya menjadi cair dan kadang disertai dengan adanya jonjot atau endapan fibrin dan protein. Untuk mengetahui adanya mastitis dapat dilakukan dengan pemeriksaan dfisis kelenjar susu secara inspeksi atau palpasi. Untuk pemeriksaan fisis terhadap susus digunakan metode strip cup test, white side test, California mastitis test, winconsin mastitis test, uji katalase.
Dengan menggunkan leukosit count dapat diketahui jumlah sel leukosit. Leukosit merupakan bagian penting dalam pertahanan tubuh terhadap agen-agen iritasi. Jumlah leukosit diperkirakan lebih dari pada sel-sel di dalam susu dan akan bertambah banyak mengikuti invasi bakteri pathogen didalam ambing. Metode mikroskopik untuk mengetahui jumlah sel-sel somatic per ml susu. Reaksi negative bila jumlah selnya 0-200.000 per ml susu dengan prosentase sel polimorfonuklearnya 0-24%. Trace diperhkirakan jumlah selnya 150.000-500.000 per ml susu, dengan prosentase PMN 30-40%.
Positif 1 : jumlah selnya 400.000-1.500.000 per ml susu dengan sel PMN 40-60%; Positif 2 : jumlah selnya 800.000-5.000.000 per ml susu dengan sel PMN 60-70%; Positif 3 : jumlah selnya diatas 5 juta dan sel PMN 80% .

3.2. Perjalanan Sirih Merah dari Adat Di Jaman Dahulu Menjadi Obat Di Masa Depan
Sejak jaman nenek moyang kita dahulu tanaman sirih merah telah diketahui memiliki berbagai khasiat obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit, di samping itu sirih merah memiliki nilai-nilai spiritual yang tinggi. Sirih merah dipergunakan sebagai salah satu bagian penting yang harus disediakan dalam setiap upacara adat ”ngadi saliro”.
Pranakusumanagara (1998) menyatakan bahwa sirih merah adalah salah satu mustika kecantikan wanita Padjadjaran. Biasanya mereka merebusnya dan setelah dingin digunakan untuk membasuh wajah atau digunakan untuk mandi. Karvakro dan arekoline yang terkandung pada sirih merah inilah yang di percaya meremajakan kulit, memutihkan, menyegarkan dan membuat tampak awet muda. Hal inilah yang dipercaya menyebabkan Hayam Wuruk jatuh hati pada Diah Pitaloka, seorang putri dari kerajaan Padjadjaran yang tampak cantik. Sejarah itulah yang selalu membuat wanita Padjadjaran di kenal diseluruh wilayah Nusantara dengan sebutan “mojang priangan”, yang artinya gadis cantik yang berasal dari surga. Mungkin karena kecantikan dan tutur bahasanya yang sopan yang menjadikannya mendapat panggilan seperti itu.
Di Jawa tengah, terutama di Kraton Jogyakarta, tanaman sirih merah telah dikonsumsi sejak dahulu untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Bedasarkan pengalaman suku Jawa tanaman sirih merah mempunyai manfaat menyembukan penyakit ambeien, keputihan dan obat kumur, alkaloid di dalam sirih merah inilah yang berfungsi sebagai anti mikroba (Soenarto, 2009).
Penelitian terhadap tanaman sirih merah sampai saat ini masih sangat kurang terutama dalam pengembangan sebagai bahan baku untuk biofarmaka. Selama ini pemanfaatan sirih merah di masyarakat hanya berdasarkan pengalaman yang dilakukan secara turun temurun dari orang tua kepada anak atau saudara terdekat secara lisan.
Sirih merah dalam bentuk teh herbal bisa mengobati asam urat, kencing manis, maag dan kelelahan, ini telah dilakukan oleh klinik herbal senter yang ada di Jogyakarta, di mana pasiennya yang berobat sembuh dari diabetes karena meng-konsumsi teh herbal sirih merah. Sirih merah juga sebagai obat luar dapat memperhalus kulit.
Selain bersifat antiseptik sirih merah juga bisa dipakai mengobati penyakit diabetes, dengan meminum air rebusan sirih merah setiap hari akan menurunkan kadar gula darah sampai pada tingkat yang normal. Kanker merupakan penyakit yang cukup banyak diderita orang dan sangat mematikan, dapat disembuhkan dengan menggunakan serbuk atau rebusan dari daun sirih merah. Beberapa pengalaman di masyarakat menunjukkan bahwa sirih merah dapat menurunkan penyakit darah tinggi, selain itu juga dapat menyembuhkan penyakit hepatitis.
Secara empiris diketahui tanaman sirih merah dapat menyembuhkan penyakit batu ginjal, kolesterol, asam urat, serangan jantung, stroke, radang prostat, radang mata, masuk angin dan nyeri sendi. Saat ini sudah cukup banyak klinik herbal center yang menggunakan sirih merah sebagai ramuan atau terapi yang berkhasiat dan manjur untuk pe-nyembuhan berbagai jenis penyakit (Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, 2008).

3.3. Mengenal Tanaman Sirih Merah dan Manfaatnya
Sirih merah disebut Piper crocatum. termasuk ke dalam famili Piperraceae. Tanaman ini dikenal dengan nama daerah sereh, sireh, canbai, seureuh, sedah, ganjang, bolu, ani-ani, amu atau reman. Tanaman sirih mempunyai banyak spesies dan memiliki jenis yang beragam, seperti sirih gading, sirih hijau, sirih hitam, sirih kuning dan sirih merah. Semua jenis tanaman sirih memiliki ciri yang hampir sama yaitu tanamannya merambat dengan bentuk daun menyerupai hati dan bertangkai yang tumbuh berselang seling dari batangnya.
Sirih merah (Piper crocatum) adalah salah satu tanaman obat potensial yang sejak lama telah diketahui memiliki berbagai khasiat obat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit, disamping itu juga memiliki nilai-nilai spritual yang tinggi. Sirih merah termasuk dalam satu elemen penting yang harus disediakan dalam setiap upacara adat khususnya di Jogyakarta. Tanaman ini termasuk di dalam famili Pipe-raceae dengan penampakan daun yang berwarna merah keperakkan dan mengkilap saat kena cahaya. Ramuan sirih merah telah lama dimanfaatkan oleh lingkungan kra-ton Jogyakarta sebagai tanaman obat yang beguna untuk ngadi saliro. Pada tahun 1990-an sirih merah di-fungsikan sebagai tanaman hias oleh para hobis, karena penampilannya yang menarik. Permukaan daunnya merah keperakan dan mengkilap. Pada tahun-tahun terakhir ini ramai dibicarakan dan dimanfaatkan sebagai tanaman obat. Dari beberapa pengalaman, diketahui sirih merah memiliki khasiat obat untuk berbagai penyakit. Dengan ramuan sirih merah telah banyak masyarakat yang tersembuhkan dari berbagai pe-nyakit. Oleh karena itu banyak orang yang ingin membudidayakannya (Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, 2008).
3.3.1. Aspek budidaya
Sirih merah tumbuh merambat di pagar atau pohon. Ciri khas tanaman ini adalah berbatang bulat berwarna hijau keunguan dan tidak berbunga. Daunnya bertangkai membentuk jantung hati dan bagian ujung daun meruncing. Permukaan daun meng-kilap dan tidak merata. Yang mem-bedakan dengan sirih hijau adalah selain daunnya berwarna merah keperakan, bila daunnya disobek maka akan berlendir serta aromanya lebih wangi.
Sirih merah dapat diperbanyak secara vegetatif dengan penyetekan atau pencangkokan karena tanaman ini tidak berbunga. Penyetekan dapat dilakukan dengan menggunakan sulur dengan panjang 20 – 30 cm. Sulur sebaiknya dipilih yang telah mengeluarkan akar dan mempunyai 2 – 3 daun atau 2 – 3 buku. Untuk mengurangi penguapan, daun di ku-rangi sebagian atau buang seluruh-nya. Sulur diambil dari tanaman yang sehat dan telah berumur lebih dari setahun. Cara perbanyakan dengan dengan setek dapat dilakukan dengan me-nyediakan media tanam berupa pasir, tanah dan kompos dengan perban-dingan 1 : 1 : 1. media tersebut di-masukkan ke dalam polibeg berdi ameter 10 cm yang bagian bawah-nya sudah dilubangin. Setek yang telah dipotong-potong direndam dalam air bersih selama lebih kurang 15 menit. Setek ditanam pada poli-beg yang telah berisi media tanam. Letakkan setek ditempat yang teduh dengan penyinaran matahari lebih kurang 60%.
Perbanyakan dengan cara pen-cangkokan dilakukan dengan me-milih cabang yang cukup tua kira-kira 15 cm dari batang pokoknya, kemudian cabang tersebut diikat atau dibalut ijuk atau sabut kelapa yang dapat menghisap air. Pencangkokan tidak perlu mengupas kulit batang. Cangkok diusahakan selalu basah agar akarnya cepat tumbuh dan ber-kembang. Cangkok dapat dipotong dan ditanaman di polibeg apabila akar yang muncul sudah banyak. Untuk tempat menjalar dibuat ajir dari batang kayu atau bambu. Penyiraman dilakukan satu sampai dua kali dalam sehari tergantung cuaca.
Penanaman di lapangan dilakukan pada awal musim hujan dan sebagai tiang panjat dapat digunakan tanaman dadap dan kelor. Jarak tanam dapat digunakan 1 x 1 m, 1 x 1,5 m tergantung kondisi lahan.
Sirih merah dapat beradaptasi dengan baik di setiap jenis tanah dan tidak terlalu sulit dalam pemeliharaannya. Selama ini umumnya sirih merah tumbuh tanpa pemupukan. Yang penting selama pertumbuhannya di lapangan adalah pengairan yang baik dan cahaya matahari yang diterima sebesar 60 – 75%.
3.3.2. Penangan Pasca panen
Tanaman sirih merah siap untuk dipanen minimal berumur 4 bulan, pada saat ini tanaman telah mem-punyai daun 16 – 20 lembar. Ukuran daunnya sudah optimal dan panjang-nya mencapai 15 – 20 cm. Daun yang akan dipanen harus cukup tua, bersih dan warnanya mengkilap karena pada saat itu kadar bahan aktifnya sudah tinggi. Cara pemetikan di-mulai dari daun tanaman bagian bawah menuju atas.
Setelah dipetik, daun disortir dan direndam dalam air untuk mem-bersikan kotoran dan debu yang me-nempel, kemudian dibilas hingga bersih dan ditiriskan. Selanjutnya daun dirajang dengan pisau yang tajam, bersih dan steril, dengan lebar irisan 1 cm. Hasil rajangan dikering anginkan di atas tampah yang telah dialas kertas sampai kadar airnnya di bawah 12%, selama lebih kurang 3 – 4 hari. Rajangan daun yang telah kering dimasukkan ke dalam kan-tong plastik transparan yang kedap air, bersama-sama dimasukan silika gel untuk penyerap air, kemudian di-tutup rapat. Kemasan diberi label tanggal pengemasan selanjutnya di-simpan di tempat kering dan bersih. Dengan penyimpanan yang baik simplisia sirih merah dapat bertahan sampai 1 tahun.
Cara penggunaan simplisia sirih merah yaitu dengan merebus se-banyak 3 – 4 potongan rajangan dengan satu gelas air sampai mendidih. Setelah mendidih, rebusan ter-sebut disaring dan didinginkan. Penggunaan sirih merah dapat dilakukan selain dalam bentuk sim-plisia juga dalam bentuk teh, serbuk, dan ekstrak kapsul.
Pembuatan serbuk sirih merah yaitu diambil dari simplisia yang telah kering kemudian digiling dengan menggunakan grinder men-capai ukuran 40 mesh. Pengemasan dilakukan pada kantong plastik transparan dan diberi label. Sedang-kan ekstrak kapsul dibuat dari hasil serbuk yang di ekstrak dengan menggunakan etanol 70%. Ekstrak kental yang didapat ditambahkan bahan pengisi tepung beras 50% dan dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 400C, setelah kering dimasukkan ke dalam kapsul.
3.3.3. Kandungan Kimia
Tanaman memproduksi berbagai macam bahan kimia untuk tujuan tertentu, yang disebut dengan metabolit sekunder. Metabolit sekunder tanaman merupakan bahan yang tidak esensial untuk kepentingan hidup tanaman tersebut, tetapi mem-punyai fungsi untuk berkompetisi dengan makhluk hidup lainnya. Metabolit sekunder yang diproduksi tanaman bermacam-macam seperti alkaloid, terpenoid, isoprenoid, fla-vonoid, cyanogenic, glucoside, glu-cosinolate dan non protein amino acid. Alkaloid merupakan metabolit sekunder yang paling banyak di produksi tanaman. Alkaloid adalah bahan organik yang mengandung nitrogen sebagai bagian dari sistim heterosiklik. Nenek moyang kita telah memanfaatkan alkaloid dari tanaman sebagai obat. Sampai saat ini semakin banyak alkaloid yang ditemukan dan diisolasi untuk obat modern (Pusat Tanaman Obat dan Obat Tradisional, 2009).
Para ahli pengobatan tradisional telah banyak menggunakan tanaman sirih merah oleh karena mempunyai kandungan kimia yang penting untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Dalam daun sirih merah terkandung senyawa fitokimia yakni alkoloid, saponin, tanin dan flavonoid. Dari buku ”A review of natural product and plants as potensial antidiabetic” dilaporkan bahwa senyawa alkokoloid dan flavonoid memiliki ak-tivitas hipoglikemik atau penurun kadar glukosa darah (Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, 2008).
Menurut Pusat Tanaman Obat dan Obat Tradisional (2009) menyatakan bahwa umbuhan sirih merah kaya dengan berbagai kandungan kimia yang sudah diketahui, a. l: Minyakatsiri 1% – 4,2%, hidroksikavicol, kavicol 7,2 – 16,7%, kavibetol 2,7 – 6,2%, allylpykatekol 0 – 9,6%, karvakol 2,2 – 5,6%, eugenol 26,8 – 42,5%, eugenolmethyl ether 4,2 – 15,8%, p-cymene 1,2 – 2,5%, cyneole 2,4 – 4,8% alkohol, caryophyllene 3 – 9,8%, cadinene 2,4 – 15,8%, estragol, terpennena, eskuiterpena, fenil propana, tanin, diastese, 0,8 – 1,8%, gula, pati. Beberapa efek zat aktif yang terkandung dalam sirih merah adalah:
Arecoline (seluruh tanaman); merangsang syaraf pusat, merangsang daya pikir, meningkatkan gerakan peristaltik, merangsang kejang, meredakan sifat mendengkur.
Karvakro bersifat desinfektan, anti jamur, sehingga bisa digunakan untuk obat antiseptik pada bau mulut dan keputihan.
Eugenol (daun) mencegah ejakulasi prematur,mematikan jamur Candida albicans, anti kejang, analgesik, anestetik, pereda kejang pada otot polos, penekan pengendaligerak.
Tanin (daun); astringent (mengurangi sekresi pada liang vagina), penekan kekabalan tubuh, pelindung hepar, anti diare, anti mutagenik.

3.4. Sebuah Kajian tentang Sirih Merah Sebagai Obat Alternatif Mastitis Subklinis pada Sapi Perah
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, sirih merah mengandung banyak senyawa yang memiliki sifat sebagai antiseptic. Sifat yang dimiliki sirih merah tersebutlah yang melandasi pemikiran tentang manfaatlain dari sirih merah untuk dunia kesehatan hewan. Salah satunya dapat digunakan sebagai pencegah atau bahkan mengobati mastitis subklinis pada sapi perah. Dibawah ini akan disampaikan beberapa penelitian yang pernah dilakukan untuk membuktikan bahwa sirih merah dapat digunakan sebagai obat alternative mencegah dan mengobati mastitis subklinis.
Kejadian mastitis subklinis di Indonesia sangat banyak terjadi. Kebanyakan dari kasus tersebut terjadi tanpa pengawasan yang tidak ketat. Sehingga ketika dapat diketahui, penyakit sudah parah. Supaya kasus tersebut tidak berulang, maka perlu adanya pencegahan sebelum terjadi.
Poeloengan, at al (2005) menyatakan bahwa kandungan minyak atsiri daun sirih dilaporkan mempunyai daya antibakteri. Pada penelitian yang dilakukannya, ekstrak daun sirih diuji efektivitasnya sebagai antibakteri terhadap mastitis subklinis. Secara in vitro ekstrak daun sirih diuji efektivitasnya sebagai antibakteri dengan metode difusi kertas cakram pada 4 konsentrasi ekstrak yang berbeda yaitu: 50; 25; 12,5 dan 6,25% dengan bakteri uji yang diisolasi dari susu sapi penderita mastitis subklinis yaitu Streptococcus agalactiae, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Hasil uji in vitro menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih mempunyai efektivitas sebagai antibakteri terhadap ketiga bakteri uji tersebut. Efektivitas ekstrak daun sirih secara in vivo dilakukan dengan cara pencelupan/dipping puting dari ambing sapi penderita mastitis subklinis. Parameter yang diamati berupa jumlah total mikroba dalam susu sebelum dan setelah perlakuan. Hasil uji menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih efektif menurunkan jumlah kuman dalam susu sapi penderita mastitis subklinis.
Berdasarkan penelitian itu, diharapkan peternak mampu mengadopsi dari inovasi yang diberikan. Sangat besar harapan supaya peternak mampu melakukan pencegahan sejak dini dengan cara melakukan pencelupan ambing sebelum dan sesudah pemerahan dengan ekstrak sirih merah. Sehingga susu yang dihasilkan memiliki jumlah bakteri yang rendah, terhindar dari penyakit mastitis subklinis dan apabila sudah terjangkit mastitis maka pencelupan juga bisa sebagai pengobatan alternative.
Pada penelitian poeloengan et, el (2005) membuat ekstrak sirih merah menggunakan bahan kimia yang tidak bisa didapat oleh peternak rakyat. Sehingga untuk peternak rakyat, cukup membuat ekstrak sirih merah dengan cara merebus 100 gram sirih merah giling (serbuk kering) dengan 2 liter air bersih dan direbus sampai mendidih. Setelah mendidih masih dibiarkan sampai 5 menit. Setelah itu dibarkan sampai hangat kuku (±350c). setelah itu ekstrak sirih merah bisa digunakan untuk pencelupan/dipping puting dari ambing sapi penderita mastitis subklinis. Sedangkan pada penelitian Poeloengan et al (2005) pembuatan ekstrak daun sirih di dapat dari daun sirih yang telah dikeringkan dan dibuat serbuk, diekstraksi secara maserasi dengan menggunakan etanol dan metanol. Sebanyak 100 g simplisia dimaserasi dalam 1000 ml etanol dan metanol pro analisis (99,8%) dan didiamkan selama 24 jam. Filtrat yang diperoleh disaring dan kemudian dipekatkan dengan rotavapor hingga diperoleh ekstrak kental.
Uji daya antibakteri ekstrak daun sirih terhadap beberapa bakteri penyebab mastitis secara in vitro
Ekstrak pekat daun sirih diencerkan dengan NaCl fisiologis steril hingga diperoleh konsentrasi ekstrak 50; 25; 12,5 dan 6,25%. Ekstrak daun sirih diuji daya hambatnya terhadap bakteri penyebab mastitis dengan metode cakram. Kertas cakram direndam dalam ekstrak daun sirih pada berbagai konsentrasi kemudian diletakkan diatas permukaan media agar Mueller Hinton yang telah diinokulasi dengan bakteri uji dan diinkubasikan selama 24 jam pada temperatur 37ºC. Diameter daerah hambat bakteri yang terbentuk di sekitar kertas cakram diukur dengan mistar. Berdasarkan pengukuran maka daun sirih pada semua konsentrasi mempunyai daya antibakteri terhadap Streptococcus agalactiae, Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis. Diameter daerah hambat pertumbuhan bakteri yang terbentuk dari ekstrak metanol daun sirih terlihat lebih luas dibandingkan dengan ekstrak etanol daun sirih.
Uji efektivitas ekstrak daun sirih pada sapi perah penderita mastitis subklinis secara in vivo
Pengujian efektvitas ekstrak daun sirih secara in vivo pada sapi penderita mastitis subklinis dilakukan dengan cara melakukan dipping puting sapi ke dalam ekstrak daun sirih. Untuk dipping diperlukan 6 ekor sapi konsentrasi ekstrak yang dipakai (2 ekor/konsentrasi ekstrak). Dipping dilakukan setiap kali sehabis pemerahan dan parameter yang diamati adalah jumlah bakteri dalam susu sebelum dan setelah dipping yaitu hari ke-0, 7, 14 dan 21. Sebagai pembanding digunakan antiseptik Biocide.
Ekstrak daun sirih pada konsentrasi 12,5%, 25% dan 50% yang digunakan untuk perlakuan pencelupan puting sapi penderita mastitis dapat menurunkan jumlah bakteri yang terkandung dalam susu. Jika dibandingkan dengan perlakuan pencelupan puting dengan antiseptik, ekstrak daun sirih mempunyai kemampuan yang setara untuk menurunkan jumlah bakteri susu sampai pada pengamatan minggu ke-4.
Pada konsentrasi ekstrak daun sirih 12,5% dan 25%, penurunan jumlah bakteri susu terjadi pada pengamatan minggu ke-2 kemudian jumlah bakteri mengalami kenaikan pada minggu ke-3 dan kemudian mengalami penurunan kembali pada minggu ke-4. Kenaikan jumlah bakteri pada minggu ke-3 kemungkinan karena adanya pelepasan sel-sel epitel dan adanya masa sitoplasmik akibat pengaruh proses sekresi sel-sel somatis. Sel radang dalam ambing merupakan respon terhadap infeksi dan usaha memperbaiki jaringan yang rusak. Jumlah bakteri pada pengamatan terakhir (minggu ke-4) nilainya masih dibawah 10.000 cfu/ml sehingga susu dapat dinyatakan dalam kondisi masih segar (Dwidjoseputro, 1998). Menurut Aritonang (2003), apabila jumlah mikroba susu lebih dari 200.000 cfu/ml menunjukkan kondisi ambing abnormal dan apabila melebihi standar tersebut dapat dinyatakan sapi menderita mastitis.
Perlakuan ekstrak daun sirih pada konsentrasi 50% menunjukkan penurunan rataan jumlah bakteri susu pada ke-2 sampai dengan minggu ke-4 pengamatan. Besarnya konsentrasi ekstrak daun sirih yang digunakan maka semakin besar pula zat aktif yang terkandung didalamnya (Komala, 2003) sehingga mampu menutup lubang puting sesaat setelah dicelupkan. Menurut Aritonang (2003), salah satu usaha untuk meminimalkan jumlah bakteri pathogen penyebab mastitis bisa dilakukan dengan pencelupan puting dengan desinfektan sebelum dan setelah pemerahan.
Oleh karena itu dapat diduga bahwa ekstrak daun sirih yang digunakan pada penelitian Poeloengan et al (2005) ini dapat berfungsi sebagai desinfektan. Hal ini didukung dengan hasil perlakuan dengan desinfektan sebagai kontrol yang sama-sama dapat menurunkan jumlah bakteri susu. Keuntungan melakukan pencelupan puting setelah pemerahan adalah mikroba tidak dapat masuk ke dalam putting walaupun lubang puting masih terbuka (Sudarwanto, 1999). Dengan melakukan pencelupan puting dengan larutan ekstrak daun sirih pekat beberapa detik setelah pemerahan akan melapisi dinding puting dan menutup lubang puting karena ekstrak yang pekat akan mudah menempel pada lubang puting.

IV. PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Fenomena kejadian mastitis seperti layaknya fenomena gunung es. Hanya sebagian yang terdeteksi (mastitis klinis) dan sisanya yang tidak terdeteksi (mastitis subklinis). Parahnya yang tidak terdeteksi inilah yang diyakini jumlahnya sangat besar. Sungguh memprihatinkan jika sebagian besar peternak kita sapinya menderita mastitis subklinis, karena itu berarti peluang susu yang dihasilkan peternak sapi perah kita untuk memasuki pasar nasional ataupun internasional akan tertutup. Untuk mengatasi hal tersebut maka cara satu-satunya adalah dengan mencegah atau mengobati mastitis subklinis tersebut.
Pengobatan secara modern menggunakan antibiotika yang berlebihan menyebabkan bakteri resisten. Terlebih lagi residu yang terdapat dalam susu sangat berbahaya jika terkonsumsi oleh manusia secara terus menerus. Maka berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan dan dengan banyaknya gerakan pecinta lingkungan dengan moto “back to nature” telah menghasilkan penemuan tentang manfaat lain dari sirih merah.
Penggunaan sirih merah sebagai antiseptic, telah terbukti mengurangi jumlah bakteri yang berada dalam susu sapi yang menderita mastitis subklinis. Adapun dosis yang digunakan belum dapat diketahui, yang pasti semakin besar konsentrasinya semakin kuat daya antisepticnya.

4.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah diambil, maka ada beberapa saran yang dapat penulis sampaikan mengenai sirih merah yang digunakan sebagai obat alternative penangkal mastitis subklinis pada sapi perah, antara lain:
1. Hasil penelitian ini harus segera di sampaikan kepada peternak melalui para penyuluh, supaya mereka bisa dengan cepat mengadopsi inovasi tersebut
2. Perlu adanya kerjasama antara peneliti dengan pemerintah atau swasta untuk mengembangkan penelitian tersebut dan pada akhirnya menuju kearah ekonomis
3. Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai pemakaian sirih merah sebagai Green-antiseptik supaya dapat diketahui dosis yang tepat untuk menangani mastitis subklinis, karena hal ini berkaitan dengan efisiensi bahan baku.

DAFTAR PUSTAKA

Aritonang, P.J. 2003. Kasus mastitis subklinis pada kambing perah di PT Taurus Dairy Farm Sukabumi menggunakan pereaksi IPB-1 dan metode breed. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Bogor.
BBPTU Sapi Perah Baturraden. 2009. Pembibitan. Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Indonesia. http://bbptusapiperah.org.
Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. 2008. Tanaman Sirih. http://balittro.litbang. deptan.go.id
Blakely, J dan D. H. Bade. 1992. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh: Bambang Srigandono).
Damarjati. 2008. Pengaruh Mastitis Terhadap Susu yang Dihasilkan. http://mikrobia .files.wordpress.com
Darwis. 1991. Potensi Sirih (Piper betle Linn) Sebagai Tanaman Obat. Warta Tumbuhan Indonesia. 1(1): 9–11.
Dwidjoseputro D. 1998. Dasar-dasar mikrobiologi.Djambatan Jakarta.
Komala, I. 2003. Pengaruh ekstrak daun sirih (Piper betle Linn) terhadap bakteri penyebab mastitis. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Bogor.
Poeloengan, M. et al. 2005. Efektifitas Ekstrak Daun Sirih terhadap Mastitis Subklinis. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2005

Pusat Tanaman Obat dan Obat Tradisional. 2009. Tanaman Obat Sirih. http://www.tanaman-obat.com/gallery-tanaman-obat/207-tanaman-obat-sirih
Pranakusumanagara. 1998. Rahasia Dibalik Sirih Merah dan Ritual Kecantikan Mojang Parahiangan. http://www.mojangjajaka .files.wordpress.com
Soebronto. 1985. Ilmu Penyakit Ternak I. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Soedibyo, M. 1991. Manfaat Sirih dalam Perawatan Kesehatan dan Kecantikan. Warta Tumbuhan Indonesia. 1(1): 11–12.
Soenarto. 2009. Daun Sirih dan Manfaatnya. http://sunartoedris. wordpress.com/2009/04/15 /daun-sirih-dan-manfaatnya/
Soewondo, S., et al. 1991. Aktivitas Antibakteri Daun Sirih (Piper bitle Linn). Terhadap Bakteri Ginggivitis dan Bakteri Pembentuk Plak/Karies Gigi (Streptococcus mutans). Warta Tumbuhan Obat.1(1): 1–4.
Sudarwanto, M., Sanjaya, W. dan Purnawarman T. 1992. Residu Antibiotika dalam Susu Pasteurisasi ditinjau dari Kesehatan Masyarakat. Dalam jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Vol. 2, No.1, Maret 1992
Sudarwanto, M.B., 1999. Usaha Peningkatan Produksi Susu Melalui Program Pengendalian mastitis Subklinis. Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor.
Syarief, M. Z. dan Sumoprastowo. 1984. Ternak Perah. Penerbit CV. Yasaguna, Jakarta.
Wahyuni, et al. 2005. Characterization Of Haemagglutinin Of Streptococcus agalactiae and Staphylococcus aureus On Subclinical Mastitis In Dairy Cows. J. Sain Vet. Vol. 23 No. 2 Th. 2005

About these ads

No comments yet»

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: